Pendidikan profesi keperawatan bertujuan untuk menyiapkan peserta didik untuk mampu melaksanakan fungsi dan peran sebagai ners. Hal ini sesuai dengan keputusan menteri pendidikan nasional Republik Indonesia No. 232/U/2000 pasal 2 ayat 2 bahwa program pendidikan profesional bertujuan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan profesional dalam menerapkan, mengembangkan, dan menyebarluaskan teknologi dan atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.

Program pendidikan profesi ners merupakan lanjutan tahap akademik pada pendidikan sarjana keperawatan. Artinya, tahap ini dilaksanakan setelah menyelesaikan program sarjana keperawatan dengan beban studi minimal 36 SKS (mengacu pada PP no. 4 pendidikan kedinasan) atau setara magister ( SK. Mendiknas, No. 232/U/2000 pasal 5 ayat 2). Pendidikan tahap profesi keperawatan merupakan tahapan proses adaptasi profesi untuk dapat menerima pendelegasian kewenangan secara bertahap dalam melakukan asuhan keperawatan profesional, memberikan pendidikan kesehatan menjalankan fungsi advokasi pada klien, membuat keputusan legal dan etik serta menggunakan hasil penelitian terkini yang berkaitan dengan keperawatan.

Pengembangan kurikulum pendidikan tahap profesi terdiri dari kurikulum inti dan kurikulum institusi yang harus diikuti oleh seluruh institusi pendidikan tinggi keperawatan yang menyelenggarakan program pendidikan profesi. Kurikulum institusi pendidikan tahap profesi terdiri dari 60% kurikulum inti (22 SKS) dan 40% kurikulum yang mencirikan institusi. Dengan demikian, diharapkan seluruh institusi pendidikan profesi mempunyai kurikulum inti yang sama.

Kompetensi pendidikan profesi dapat dicapai dengan masa studi 2  semester dengan perhitungan 36 SKS x 16 minggu x 4 jam = 2304 jam. Jika dalam satu minggu 48 jam, maka dibutuhkan masa studi 48 minggu ( 2304 : 48 jam).

Struktur Kurikulum dan Mata Kuliah Tahap Pendidikan Profesi Ners

STASE MATA KULIAH Jumlah Sks
Kurikulum Inti Kurikulum Institusional
I Keperawatan Medikal Bedah 5  
II Keperawatan Anak 3
III Keperawatan Maternitas 3
IV Keperawatan Jiwa 2
V Manajemen Keperawatan 2
VI Keperawatan Gawat Darurat 3
VII Keperawatan Gerontik 2
VIII Keperawatan Keluarga & Komunitas 4
IX Elektif   12
Jumlah SKS   24 12

 

Dalam  hal  operasionalisasinya  Stase  I – IX dapat  dilaksanakan  secara  paralel  dan  tidak  ada prasyarat  (pre-recquisite),  karena  diasumsikan  setiap  lulusan  pendidikan  tahap  akademik  (Sarjana Keperawatan)  telah  memiliki  kompetensi  yang diperlukan  untuk  tahap  profesi.

 

Setelah mata kuliah ditentukan kemudian didistribusikan ke dalam setiap semester dengan deskripsi sebagai berikut:

 

 

 

 

Distribusi Mata Kuliah per Semester Tahap Pendidikan Profesi Ners

Kode MK Mata kuliah SKS Waktu
  SEMESTER IX    
NS 101 Keperawatan Medikal Bedah 5 7 mgg
NS 102 Keperawatan anak 3 4 mgg
NS 103 Keperawatan maternitas 3 4 mgg
NS 104 Manajemen Keperawatan 2 3 mgg
NS 105 Keperawatan Gawat Darurat 3 4 mgg
  Jumlah SKS putaran pertama 16  
  SEMESTER X    
NS 106 Keperawatan Jiwa 2 3 mgg
NS 107 Keperawatan Komunitas 2 3 mgg
NS 108 Keperawatan Keluarga 2 3 mgg
NS 109 Keperawatan Gerontik 2 3 mgg
NS 110 Elektif (Critical Nursing, Emergency Nursing, Perioperative Nursing, Hemodialisa Nursing) 12 14 mgg
  Jumlah SKS putaran ke dua 20  
  Jumlah Total SKS 36 48 mmg

Pendidikan  tahap  profesi  merupakan  kelanjutan  dari  tahap  pendidikan  program  sarjana keperawatan  dimana  tahap  ini  peserta  didik  mengaplikasikan  teori  dan  konsep  yang  didapat selama  proses  pendidikan  sarjana.  Oleh  karena  itu,  pelaksanaan  pendidikan  tahap  profesi  harus dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip-prinsip di bawah ini:

  1. Calon peserta  pendidikan  tahap  profesi  merupakan  lulusan  pendidikan  sarjana  keperawatan (bergelar  akademik  Kep)  serta  lulus  uji  kompetensi.
  2. Tersedianya wahana  praktik  yang  kondusif  (sarana  dan  prasarana)  untuk menumbuhkembangkan  kemampuan  berpikir  kritis,  menyelesaikan  masalah,  dan  mengambil keputusan sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.
  3. Tersedianya buku  pedoman  pelaksanaan  kegiatan  pendidikan  tahap  profesi,  buku  log,  dan modul praktik.
  4. Tersedianya preseptor/mentor untuk penyelenggaraan pendidikan profesi.
  5. Pelaksanaan kegiatan  pendidikan  profesi  berorientasi  pada  tahap  pembelajaran  sederhana  ke kompleks  dengan memfokuskan  pada  pengetahuan,  keterampilan,  dan  sikap  untuk  mencapai kompetensi profesional seorang NS.

Metode pembelajaran

  1. Pre dan post conference
  2. Tutorial individual yang diberikan preseptor
  3. Diskusi kasus
  4. Case report dan overan dinas
  5. Pendelegasian kewenangan bertahap
  6. Seminar kecil tentang klien atau ilmu dan teknologi kesehatan/keperawatan terkini
  7. Problem solving for better health (PSBH)
  8. Belajar berinovasi dalam pengelolaan asuhan

Metode Evaluasi:

  1. Log book
  2. Direct Observasional of Prosedure skill
  3. Case test/uji kasus (SOCA – Student Oral Case Analysis)
  4. Critical insidence report.
  5. OSCE
  6. Problem solving skill
  7. Kasus lengkap, kasus singkat
  8. Portfolio